Anne
Cahaya matahari yang masuk dari jendela terlihat kontras dengan ruangan yang gelap dan muram ini. Seperti biasa kududuk di kursi kursi besar yang berlapis kain lembut berwarna gelap.
Seperti biasa?
Apa aku sudah lama berada disini?
Sudah berapa lama?
Kuedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Ruangan yang terasa akrab sekaligus asing. Sebuah perapian menghiasi sisi dinding di sebelah kiriku, rak buku besar memenuhi dinding di hadapanku, sebuah meja kecil diletakkan di samping kanan kursiku. Lalu, yang kutahu ada sebuah piano besar di belakang kursiku ini, meski ku tak bisa memastikannya. Ruangan ini masih terasa gelap meski memiliki jendela-jendela yang besar dan cahaya yang masuk melimpah ruah. Udara ruangan ini pun terasa statis dan membuatku sesak.
Suara gelak tawa terdengar dari luar jendela. Suara anak-anak bermain. Ingin sekali aku melihat keluar, tapi aku tak mampu menggerakkan seujung jari pun. Aku hanya mampu menggerakkan kepalaku, seolah-olah badanku terikat ke kursi ini. Tapi tak ada tali yang mengikatku.
Ada apa denganku?
Kenapa aku tak bisa bergerak sama sekali?
Aku pun tak bisa bersuara.
Siapa saja, tolong aku!
Suara langkah kaki terdengar. Aku mengenali langkah itu. Langkah yang selalu membawa cahaya. Matahariku. Ia berlari kesini.
Pintu yang berada di dinding sebelah kananku terbuka. Seraut wajah menyembul masuk. Sebentuk senyum tersungging di wajah cerianya, matanya yang coklat berbinar cerah. Ia masuk kedalam ruangan dan menghampiri kursi tempatku duduk. Ia mengamit tanganku dan menarikku hingga berdiri. Belenggu yang mengikatku ke kursi terlepas, ruangan menjadi lebih terang, disinari cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela besar yang ada.
Anak itu kembali menarik tanganku, aku pun berlari kecil mengikuti langkahnya. Keluar dari ruangan itu, menyusuri koridor rumah, menuju pintu yang mengarah ke pekarangan samping. Saat berlari menyusuri koridor, mataku sempat menangkap sebuah pigura besar. Pigura itu menghiasi foto keluarga, aku, suamiku, dan kedua anak suamiku.
Ya. Anak yang menarik tanganku saat ini adalah anak kedua suamiku dari istrinya yang terdahulu. Aku baru saja menikah dengan suamiku beberapa bulan yang lalu, menggantikan istrinya yang meninggal 8 tahun yang lalu karena sakit. Menurut kabar yang beredar, suamiku menikahiku karena aku mirip dengan mendiang istrinya. Tapi aku sendiri tidak yakin apakah aku semirip itu dengannya. Terkadang aku membandingkan wajahku dengan foto mendiang istrinya yang tergantung di salah satu dinding rumah besar ini.
Sebelumnya aku hanyalah anak seorang anak kepala sekolah dari kota kecil yang sedang menjadi guru magang. Saat itu suamiku sedang berkunjung ke kota kecil tempatku tinggal dan kami sempat berpapasan di jalan. Aku tidak menyangka jika setelah itu ia mencari informasi tentangku dan langsung melamarku pada orangtuaku.
Aku tidak tahu apa yang ia katakan pada orangtuaku sampai-sampai mereka memaksaku untuk menerima pinangannya. Aku tidak ingin menyusahkan orangtuaku dan aku pun menyetujui lamarannya. Lagipula saat itu aku tidak berhubungan dengan siapa pun, jadi mungkin aku bisa mencintai suamiku suatu saat nanti.
Tapi rupanya harapanku saat itu tidak akan terjadi. Semakin lama aku tinggal di rumah ini, semakin kutersiksa. Yang dapat menjadi pengobat hatiku hanyalah kedua anak dari suamiku. Mereka anak-anak yang manis dan baik hati, meski demikian mereka sulit merasakan kebebasan. Ayah mereka melarang mereka keluar dari rumah ini, bahkan untuk bersekolah sekalipun. Guru privat pun dipanggil untuk datang ke rumah. Aku yang ingin menjadi guru pun mengajar mereka.
Kami sering belajar di ruangan tempatku duduk tadi. James yang berumur 15 tahun akan memainkan piano setelah kami selesai belajar sementara adiknya Scott yang berumur 12 tahun dan aku mendengarkan permainannya sambil membaca buku. Sore ini pun setelah kami bermain di pekarangan, kami belajar di ruangan itu.
Aku menyukai ruangan itu, meskipun aku tidak menyukai kursi besar yang ada di ruangan itu. Seakan membuatku tak berdaya. Menurut James dan Scott kursi itu adalah kursi kesayangan ibu mereka. Aku adalah orang pertama yang diizinkan ayah mereka untuk menduduki kursi itu. Mungkin lebih tepatnya aku dipaksa untuk duduk di kursi itu. Sepertinya ia masih mencari-cari istrinya yang sudah meninggalkan dunia ini. Tapi semakin lama ia memandangku, semakin terlihat perbedaan kami. Dan hal itu sering membuatnya marah.
Aku memandang James yang sedang bermain piano, kemudian kualihkan pandanganku pada Scott yang berbaring telungkup sambil membaca buku di sampingku, lalu kualihkan pandanganku pada buku yang sedang kubaca. Aku sangat menikmati saat-saat ini, bersama dua pria kecilku, yang lebih sering kuanggap sebagai adik karena usia kami yang tidak jauh.
Scott
Wanita yang sedang duduk di lantai bersamaku ini adalah ibu tiriku, Anne namanya. Ayah menganggapnya mirip dengan ibuku yang sudah meninggal, karena itulah ia menikahinya. Kenyatannya, ia tidak mirip dengan ibuku, dan itulah yang membuat ayahku semakin marah padanya setiap kali mencari kemiripannya dengan ibuku. Hanya warna rambut dan warna matanya yang mirip dengan ibuku. Tapi itu tidak masuk akal. Warna rambut dan mataku pun mirip dengan ibu, tapi karena hal itulah ayah tidak mau memandangku karena membuatnya teringat ibuku. Aku sungguh tidak tahu apa yang dipikirkannya.
Anne menganggap aku dan James sebagai adiknya. Karena umur kami tak jauh berbeda. Ia baru berusia 20 tahun dan ia menikah dengan ayahku yang usianya terpaut 25 tahun dengannya. Sejak awal aku dan James tak pernah memanggilnya ibu, kami memanggil namanya. Ayah sempat marah pada kami, tapi Anne membela kami. Dia bilang karena umur kami tak berbeda jauh, pastinya kami menganggapnya lebih sebagai kakak daripada ibu.
Yang kutahu James memang menganggapnya kakak. Tapi aku tidak. Sejak awal aku merasakan perasaan yang lain mengenai wanita itu. Tapi kurasa ia akan menertawakanku karena umurku masih 12 tahun.
Aku memandang kursi besar di ruangan ini. Kursi kesukaan ibuku. Ia sering duduk di kursi itu sambil minum teh dan menikmati hangatnya api perapian, lalu ayahku akan bermain piano untuk menemaninya bersantai. Sudah 8 tahun kursi itu tidak diduduki, ayah melarang siapa pun menduduki kursi itu, ia sendiri juga tak pernah menduduki kursi itu. Ketika Anne masuk ke rumah ini sebagai ibu tiriku, ayah sering menyuruhnya untuk duduk di kursi itu. Kemudian ia akan memandangi Anne yang duduk di kursi itu dengan mata menerawang jauh. Ia benar-benar mencari sosok ibuku dalam diri Anne.
Tapi akhir-akhir ini ia kesulitan melihat sosok ibu, menurutnya makin lama Anne makin tidak mirip dengan ibuku. Ia lalu menyuruh Anne untuk mengenakan baju-baju ibuku yang disimpan dengan rapi. Tak hanya itu, ia menyuruh Anne mengikuti kebiasaan-kebiasaan ibuku, cara jalannya, cara berbicaranya, cara tertawanya. Ayah benar-benar sudah gila.
Aku melihat Anne semakin terluka setiap hari karena sering di damprat ayahku. Bahkan duduk di kursi ibuku pun menjadi hal yang berat baginya, aku melihat ia seakan terbelenggu dan kesulitan bernapas. Padahal setiap pagi ayah selalu menyuruhnya untuk duduk di sana sebelum ia pergi.
Setelah ayah berangkat aku selalu menjemputnya, menariknya bangun dari kursi itu, melepasnya dari belenggu. Aku ingin ia bisa bernapas saat ia bersamaku atau James. Sungguh menyenangkan melihat matanya berbinar bak gemintang.
Hingga waktu makan malam hari ini ayah belum juga pulang. Menurut kepala rumah tangga, ayah baru pulang besok karena urusan bisnis. Aku lega karena itu berarti Anne akan terbebas dari aturan-aturan ayahku lebih lama. Malam itu pun pertama kalinya aku melihat Anne tertidur di balkon dengan sebuah buku terbuka di pangkuannya. Ia mengenakan gaun tidur berwarna putih dan rambut ikalnya pun digerai, tidak disanggul seperti di siang hari.
Malam itu aku tak menyangka akan melakukan sesuatu yang dapat membuatku dan Anne dalam masalah. Aku meraih rambut panjang Anne dan menciumnya. Harum semerbak rambutnya memenuhi rongga pernapasanku.
Anne bergerak. Sepertinya ia terbangun. Aku segera melepaskan rambutnya yang kupegang. Ketika ia membuka mata dan menyadari aku ada di dekatnya, aku mengatakan padanya agar tidur di kamar, karena angin dingin akan membuatnya sakit jika ia tidur di luar. Setelah mengatakan itu aku langsung pergi dari balkon, menuju kamarku sendiri.
Anne
Suamiku pulang menjelang sore. Setelah semalam ia tidak pulang aku merasa sedikit segar karena bebas dari rasa tegang ketika berhadapan dengan suamiku. Aku menyambutnya selayaknya seorang istri menyambut suaminya pulang. Setelah itu suamiku masuk ke ruang kerjanya dan mengurung diri disana. Ia tidak mengizinkan siapapun masuk kecuali kepala rumah tangga kami dan pelayan yang membawakan teh untuknya.
Tak lama kemudian kepala rumah tangga memberitahu bahwa suamiku memanggilku, Scott dan James ke ruang kerjanya. Ketika kami masuk ke dalam ruang kerja, kami melihat ruangan itu habis terkena amukan amarahnya. Berkas-berkas kerjanya berserakan di sekitar meja kerjanya, teh yang disuguhkan padanya menggenangi lantai beserta pecahan cangkir dan poci teh yang dilemparkannya. Ia terlihat murka, matanya memicing tajam dan wajahnya memerah, tapi ia belum mengatakan apapun. Rasa takut menjalariku.
Para pelayan di rumah ini satu persatu masuk ke dalam ruang kerja, mereka berdiri berjejer mengelilingi ruangan. Aku memperhatikan mereka dengan bingung. Kemudian pintu ruangan ditutup. Dua pelayan wanita maju dan memegangiku, sementara James dan Scott masing-masing dipegangi oleh dua pelayan pria. Suamiku beranjak dan meja kerjanya dan berdiri di tengah ruangan.
Ia menyuruh dua pelayan yang memegangi Scott untuk membawa Scott ke hadapannya. Ia mengatakan bahwa Scott telah lancang karena telah mencium rambutku ketika aku tertidur di balkon semalam. Aku terperanjat mendengar apa yang dikatakan suamiku. Kemudian ia mulai memukuli Scott.
James memberontak dari pelayan-pelayan yang memeganginya. Ia berteriak pada ayahnya untuk berhenti memukul Scott. Sementara aku hanya dapat memandang ngeri melihat kejadian di hadapanku. Tubuh 12 tahun Scott terlihat terombang-ambing karena pukulan-pukulan yang diterimanya.
Ia berhenti memukuli Scott setelah puas. Scott tergeletak tak berdaya dengan badan tertelungkup. Ia mengalihkan pandangan padaku, kemudian berjalan ke arahku. Ia berdiri di depanku dan memerintahkan pelayan yang memegangiku melepasku. Aku bergidik ketika tangan yang digunakannya untuk memukuli Scott membelai pipiku. Matanya memandangku, tapi aku tahu bukan aku yang dipandanginya melainkan istrinya yang sudah meninggal.
Aku hampir terlonjak mendengar suara Scott. Dengan tubuh yang babak belur ia masih berkata pada ayahnya agar melepasku, bahwa ibunya telah tiada dan ayahnya tidak akan bisa menemukannya pada diriku. Mendengar Scott berkata demikian, ayahnya kembali berbalik padanya. Aku panik, ia akan memukuli Scott lagi. Lalu entah kudapatkan keberanian darimana, aku berlari menyusulnya dan berdiri dihadapannya, berusaha melindungi Scott.
Scott
Kubuka mataku, pandanganku tertumbuk pada langit-langit yang suram dan rendah. Aku mengenal ruangan ini, beberapa kali aku dan James dihukum di tempat ini karena kenakalan kami, ruang bawah tanah. Tapi lantai tempatku berbaring tidak terasa dingin, seseorang menaruh kain tebal dibawah tubuhku agar tidak langsung terkena lantai bawah tanah yang dingin.
Aku mendengar suara orang berbicara dari tangga yang berujung pada pintu keluar. Ketika kualihkan pandangan ke arah suara itu aku melihat Anne sedang duduk di anak tangga paling atas dan berbicara pada seseorang di balik pintu itu. Tak lama kemudian percakapan mereka selesai dan Anne turun dari tangga.
Ketika Anne melihatku, ia tersenyum dan berkata bahwa ia senang melihatku telah sadar. Anne duduk di dekatku, aku melihat sebelah pipinya lebam. Aku ingat, ketika ia berusaha melindungiku dari amukan ayah, ayah menamparnya dengan keras. setelah itu aku tidak tahu apa-apa lagi karena aku tidak sadar.
Aku meminta Anne menceritakan apa yang terjadi. Rupanya setelah ayah menampar Anne, ia menyuruh pelayan membawa kami ke ruang bawah tanah ini dan mengurung kami disini. James pun dikurung di kamarnya dan tidak boleh keluar. Tapi ia berhasil kabur dan berusaha mengunjungi kami. Tapi ia tidak bisa membuka pintu ruang bawah tanah sehingga ia hanya bisa berbicara dengan Anne dari balik pintu.
Entah berapa lama kami akan dikurung disini. Ayah bukanlah orang yang mudah memaafkan orang. Tapi kuharap Anne segera dikeluarkan dan sepertinya James juga tidak akan diam saja. Meskipun ia bukan pemberontak sepertiku, tapi ia tidak menyukai sifat diktator ayah.
Mataku terasa berat.
…
…
…
Aku terbangun karena keributan. Orang-orang berteriak karena sesuatu. Lalu aku menyadari sesuatu, asap mulai masuk ke dalam ruang bawah tanah melalui sela-sela kayu. Kebakaran. Anne menggedor-gedor pintu ruang bawah tanah sambil berteriak meminta tolong. Tapi tak ada orang yang datang. Sepertinya suara teriakan Anne kalah dengan suara hiruk pikuk di luar.
Asap pekat yang masuk ke dalam ruang bawah tanah membuatku terbatuk-batuk. Rasa sakit di sekujur tubuhku semakin terasa. Anne yang tidak lagi menggedor-gedor pintu dan berteriak meminta tolong duduk kembali di dekatku. Wajahnya terlihat khawatir. Aku tersenyum padanya.
*********
“Shirley! Kau sudah sadar?”
“Apa yang terjadi?” tanya gadis berambut pendek yang dipanggil Shirley itu.
“Kau terjatuh dari tangga ketika kita berkeliling di rumah tua yang sudah lama diabaikan itu. Berkali-kali kukatakan padamu agar berhati-hati tapi kau tetap saja gegabah tanpa memerhatikan bahwa tangga kayu itu sudah lapuk” omel Anya.
“Maaf” kata Shirley sambil nyengir.
“Berterima kasihlah pada pemuda yang yang menangkapmu. Setidaknya kau tidak terluka lebih parah” ucap Anya.
“Siapa?”
“Kelompok peneliti lain. Kebetulan mereka juga sedang mempelajari rumah tua itu. Tapi rumah tua itu memang mengerikan. Setelah terjadi kebakaran rumah itu di restorasi, tapi selalu terjadi hal aneh sehingga tak ada orang yang ingin tinggal disana. Sampai akhirnya rumah itu pun diabaikan hingga sekarang.”
“Iya. Tapi entah kenapa…”
“Sepertinya pemuda yang menangkapmu itu juga sudah sadar” potong Anya.
“Hah?”
“Kepalanya terbentur ketika menangkapmu dan kalian berdua pingsan. Ayo sana!”
Shirley keluar dari mobil. Selama ia pingsan rupanya ia ditidurkan di jok belakang jeep yang ia gunakan untuk sampai ke tempat itu. Shirley menghampiri sekelompok pemuda yang duduk berkelompok di dekat kendaraan mereka.
“Oh! Kau sudah sadar ya? Kebetulan sekali orang ini juga baru saja bangun” ucap seorang pemuda sambil menepuk pundak teman di sebelahnya.
Shirley dan pemuda yang menolongnya bertatapan. Sejenak mereka terpaku.
“Arthur” pemuda itu mengulurkan tangannya sambil memperkenalkan diri.
“Shirley” dibalasnya uluran tangan pemuda itu.
Mereka berdua tersenyum.
NB: ide awal cerita ini dari mimpi 9 tahun yang lalu
cerita awalnya berbeda dengan cerita yang sekarang ini
Komentar Terakhir